Desain Interior Masjid – Urutan Menata dari Atas ke Bawah

desain interior masjid

Desain interior masjid sering dibahas dalam rapat pembangunan lewat satu pertanyaan besar: bagusnya seperti apa? Pertanyaan itu terlalu luas untuk dijawab sekaligus, sehingga rapat mudah berputar tanpa hasil.

Workshop kami di Boyolali menghasilkan lampu gantung, kaligrafi, rak Al-Quran, dan kubah berbahan tembaga serta kuningan. Kami bukan penyedia jasa desain interior, jadi tulisan ini membahas cara menimbang, bukan rancangan jadi.

Caranya kami bagi per bidang, dimulai dari plafon di atas lalu turun ke dinding, lantai, dan sudut ruangan. Tiap bidang cukup menjawab satu keputusan, sehingga pengurus tidak perlu memutuskan semuanya dalam satu pertemuan.

Baca juga: Kaligrafi Dinding Masjid – Cara Memilih yang Serasi

Desain Interior Masjid dan Hal yang Dilihat Jemaah

Jemaah jarang menilai ruang ibadah dari gambar rancangan. Mereka menilainya dari tempat berdiri, duduk, dan berjalan, lalu merasakan apakah ruangannya rapi, lapang, dan mudah dipakai.

Karena itu desain interior masjid sebaiknya dibaca dari sudut pandang orang yang berada di dalamnya. Gambar yang indah di atas kertas belum tentu enak dilihat dari saf paling belakang atau dari pintu masuk.

Ruang ibadah juga dipakai lama dan berulang oleh banyak orang dengan kebiasaan berbeda. Anak-anak, lansia, dan jemaah yang datang terlambat semuanya ikut melihat ruangan yang sama dari posisi yang tidak sama.

Sudut pandang itu yang kami pakai untuk membagi pembahasan berikut. Setiap bidang diperiksa dengan pertanyaan yang bisa dijawab pengurus sambil berdiri di dalam masjid, bukan dengan istilah arsitektur.

Menata Desain Interior Masjid dari Atas ke Bawah

Urutan dari atas ke bawah dipilih karena bidang di atas paling sulit diubah belakangan. Dalam desain interior masjid, plafon yang sudah jadi membatasi lampu, sedangkan lantai masih mudah disesuaikan sampai akhir.

Anggaplah uraian ini sebagai daftar pertanyaan untuk rapat. Jawaban akhirnya hanya bisa ditemukan di dalam bangunan Anda sendiri, dan hal yang menyangkut kekuatan struktur perlu diperiksa oleh orang yang melihat bangunannya langsung.

1. Plafon, Kubah, dan Lampu

Plafon masjid dengan lampu gantung dilihat dari tengah ruangan

Mulailah dengan menengadah dari tengah ruangan. Catat apakah plafonnya rata, bertingkat, atau berkubah, karena bentuk itu menentukan di mana lampu bisa digantung dan dari sudut mana jemaah melihatnya.

Bila masjid memakai kubah, bentuk dan bahannya ikut mewarnai ruang di bawahnya. Kubah Masjid Tembaga kami berbahan tembaga, dan warna kemerahan logam itu akan tampak bersama cat plafon.

Pertanyaan keputusan di bidang ini ada dua. Pertama, lampu akan menjadi satu pusat atau beberapa titik? Kedua, apakah warna plafon dan logam lampu akan saling menguatkan atau saling bersaing?

Soal menata titik lampu pada ruang yang luas, pembahasannya ada di tulisan tentang lampu untuk masjid besar. Di sini cukup satu catatan: gambar plafon perlu rampung lebih dulu agar titik gantung tidak dicari di menit terakhir.

2. Dinding Depan, Mihrab, dan Kaligrafi

Dinding depan masjid dengan kaligrafi dilihat dari saf tengah

Turunlah ke dinding depan, tempat mata jemaah paling sering tertuju. Tentukan lebih dulu bagian dinding yang sengaja dibiarkan kosong, sebab dinding penuh hiasan membuat tulisan di atasnya sulit dibaca.

Dinding depan biasanya memuat mihrab, sehingga hiasan di sekitarnya perlu dilihat sebagai satu susunan. Berdirilah di saf tengah, lalu periksa apakah pandangan terarah ke satu bagian atau terpecah ke banyak bagian.

Soal tulisan, pilihan ayat dan keterbacaannya menjadi urusan pengurus bersama mereka yang memahami agama, bukan urusan perancang interior atau pembuat hiasan. Rinciannya ada di tulisan kaligrafi yang kami tautkan di atas.

Katalog kami memuat Kaligrafi Tembaga Kuningan dengan ayat Al-Quran, asmaul husna, dan motif kaligrafi Arab. Bila logam menarik bagi Anda, tanyakan ukuran dan cara pasangnya kepada pembuat sebelum menyisihkan dinding untuknya.

3. Lantai, Karpet, dan Sudut Mushaf

Lantai berkarpet dan rak mushaf di sudut ruang salat

Bidang terakhir adalah lantai dan sudut yang dipakai sehari-hari. Karpet menentukan warna dasar ruangan, sehingga pilihannya sebaiknya dilihat bersama warna dinding dan logam lampu, bukan di toko secara terpisah.

 

Bawalah potongan contoh karpet ke dalam masjid dan letakkan di bawah cahaya yang biasa dipakai. Warna yang tampak sama di toko sering terlihat lain di bawah lampu ruang ibadah, jadi contoh itu perlu diuji di tempatnya.

Sudut mushaf juga ikut menentukan kerapian ruangan. Tentukan letak rak lebih dulu, lalu cek apakah lorong di sekitarnya tetap lapang saat jemaah berbaris dan saat orang berlalu-lalang.

Rak Al-Quran Masjid di katalog kami berbahan kuningan dan tembaga, bermotif Islami, dengan model Nabawi. Soal letak dan jumlah rak, keputusannya paling tepat diambil oleh pengurus bersama tokoh agama di lingkungan masjid Anda.

Baca juga: Rak Al-Quran Masjid – Cara Menata dan Memilihnya

Keputusan yang Saling Mengunci di Ruang Ibadah

Keputusan per bidang dalam desain interior masjid tidak berdiri sendiri. Satu pilihan di atas sering menutup atau membuka pilihan di bawahnya, dan pola ini baru terasa ketika pekerjaan sudah berjalan.

Contohnya, plafon yang dibuat bertingkat menentukan di mana lampu boleh digantung. Titik gantung itu kemudian menentukan lampu seberapa besar yang muat, dan ukurannya memengaruhi dinding mana yang tampak lapang.

Contoh lain, dinding depan yang sudah diberi kaligrafi lebar tidak lagi punya ruang untuk hiasan tambahan. Lorong yang sempit akan membatasi letak rak, sehingga rak mungkin harus pindah ke dinding yang lain.

Untuk bangunan dua lantai, rantai keputusannya lebih panjang karena lampu terlihat dari dua tempat. Tulisan kami tentang lampu masjid dua lantai membahas cara membacanya dari gambar potongan bangunan.

Cara praktisnya, tempelkan denah masjid di dinding ruang rapat, lalu tandai tiap keputusan dengan kertas berwarna: satu warna untuk yang sudah sepakat, satu warna lain untuk yang masih diperdebatkan.

Baca juga: Lampu Masjid Dua Lantai – Cara Menimbang Posisi Gantung

Interior Masjid Sederhana, Mana yang Diutamakan?

Tidak semua masjid punya dana untuk menggarap semua bidang sekaligus. Interior masjid sederhana tetap bisa tampak rapi bila pengurus berani memilih bidang yang dikerjakan lebih dulu.

Satu cara memilih adalah bertanya bidang mana yang paling sering terlihat oleh jemaah. Biasanya jawabannya dinding depan dan plafon, karena keduanya tampak dari hampir setiap saf di ruang salat.

Cara lain adalah membedakan pekerjaan yang sulit diulang dari yang mudah diganti. Plafon dan titik gantung termasuk yang sulit diulang, sedangkan hiasan dinding dan penataan rak bisa menyusul bertahap.

Kerapian juga tidak selalu butuh biaya besar. Ruangan yang dindingnya dibiarkan polos, lantainya bersih, dan raknya tertata sering lebih menenangkan daripada ruangan yang penuh hiasan dari berbagai selera.

Karena itu, susun urutan kerja bersama anggaran yang tersedia, bukan sebaliknya. Angka biaya sengaja tidak dicantumkan karena tiap bangunan berbeda, dan harga produk kami memang tidak ditampilkan di situs.

FAQ Seputar Desain Interior Masjid

  1. Apa saja unsur desain interior masjid?
    Unsur yang paling sering dibahas adalah plafon atau kubah, lampu, dinding depan, kaligrafi, lantai dan karpet, serta perlengkapan seperti rak mushaf. Pengurus bisa menambah unsur lain sesuai bangunannya.
  2. Dari mana sebaiknya mulai menata interior masjid?
    Mulailah dari bidang yang paling sulit diubah, yaitu plafon dan titik gantung lampu. Setelah itu, dinding, lantai, dan sudut-sudut kecil bisa diputuskan satu per satu sambil menyesuaikan dana yang ada.
  3. Apakah interior masjid sederhana bisa tetap rapi?
    Bisa, asalkan pengurus memilih beberapa hal untuk dikerjakan dengan baik dan membiarkan sisanya polos. Ruang kosong yang disengaja tampak lebih tertata daripada hiasan yang dipasang tanpa rencana.
  4. Perlukah arsitek untuk desain interior masjid?
    Untuk hal yang menyangkut kekuatan bangunan, seperti beban plafon dan titik gantung, sebaiknya ada arsitek atau ahli struktur yang menilai langsung. Untuk selera dan urutan pilihan, rapat pengurus sudah sangat membantu.
  5. Apakah warna dinding dan karpet harus senada?
    Tidak harus sama, tetapi sebaiknya saling mendukung. Uji contoh warna di dalam masjid pada jam yang berbeda, lalu pilih yang tetap nyaman dilihat saat pagi, siang, maupun malam hari.

Kesimpulan

Desain interior masjid lebih mudah diputuskan bila dibagi per bidang: plafon dan lampu, dinding depan dan kaligrafi, lalu lantai dan sudut mushaf. Tiap bidang cukup menjawab satu pertanyaan sebelum pindah ke bidang berikutnya.

Karena pilihan saling mengunci, urutan dari atas ke bawah menjaga rapat tetap terarah dan memberi ruang bagi dana yang terkumpul bertahap. Hasilnya adalah ruang ibadah yang terasa rapi bagi jemaah di dalamnya.

Urutan kerja yang jelas menghemat banyak pembicaraan ulang di rapat. Buka halaman Produk di Lampuhiasmasjid.com untuk melihat lampu gantung, Kaligrafi Tembaga Kuningan, dan Rak Al-Quran kami, lalu ceritakan bidang yang ingin Anda garap lebih dulu bersama Wahid Art.

Konsultasi Gratis Di Sini!

 

Scroll to Top